UNDER MY COVER

MEMORANDUM

6828_1099289654619_1598004068_242575_813654_n

Stambul, musim tanam 1981

Jauh di hulu, batas akhir perkampungan pingaran, ladang keluarga di seberang sungai itu milik seorang ayah, dan anaknya yang kini telah mengenal jati diri sebagai seorang lelaki. Siang-siang mereka istirahat dalam gubuk panggung, dengan dinding-dinding yang dibiarkan melepas kesejukan dan aroma daun-daun padi.

Sambil menyimak radio saluran daerah, lelaki itu berharap namanya muncul sebagai Calon Pegawai Negeri. Hari ini diumumkan, dan namanya disebut, daerah penempatan Saijaan. “di manakah?” katanya.

Saijaan, musim panen ikan 1984

Sudah 3 tahun lelaki itu mengabdi negara, ternyata ini daerah kepulauan tertinggal. Letaknya yang strategis langsung dilirik Repelita memajukan kotanya, segera. Namun sudah tiga tahun akses ke sini masih sangat minim. Daerah ini hanya bisa disentuh lewat jalur udara. Tiga tahun jua dirinya sadar harus cepat-cepat melepas masa lajang. Hidup bebas bagai burung terbang memang enak, tapi sendiri tak ada yg dibagi.

Galuh Banjar, sebutan untuk gadis desa cantik beralis tipis itu, dengan rambut ikal mayangnya dan wajah berpupur basah. Seorang Galuh Banjar mengenakan kakamban-habang* menarik hatinya. Dia adalah cinta dan cinta itu akan menuntut semua darinya, makan dan tidurnya, hingga berjalannya meniggalkan jejak wewangi yang tidak biasa.

Tiga langkah untuk mendapatkan hati seseorang yang engkau suka; Berkenalan, Lamar, dan Nikah. Tak perlu rumit seperti lelaki ini. Segera dia datangkan sang ayah untuk menghadap. Terbang dari desa ke desa dengan tiket seharga Rp 52,000,- setara uang gaji sebulan. Pinangan diterima dengan mahar Rp 300,000,-, urusan selesai, sang ayah tak bisa berlama-lama, tinggal lagi dia seorang. Dihari pernikahan tidak ada seorangpun keluarga yang bisa datang karena minimnya akses ke desa. Hanya dengan bantuan rekan-rekan kerja dia mempersiapkan segalanya. Nasib perantauan memang tak pernah menentu, kepastian untuk hari ini, besok dan lusa tipis bedanya antara hidup dan mati. Namun harapan telah menerangi jalan hidup manusia sepanjang sejarahnya. Lelaki ini yang kelak istrinya melahirkanku, ayahku. Familyman sejati. Ayah yang dulu menyelamatkanku ketika hampir mati tenggelam, mendidikku dengan cintanya, dengan nasehat-nasehatnya menjelma jadi teladan. Ayah terbaik sepanjang masa.

*Baju adat tradisional Banjar

@daniAlbanjary

Advertisements
This entry was published on March 13, 2014 at 1:49 am. It’s filed under Family, Stories & Profiles and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “MEMORANDUM

  1. ayah :’)

    “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan lah pintu itu atau jagalah ia” (HR. Tirmidzi).

  2. Udah lama jg ga nulis2 lg ya akh? Hehehe 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: