UNDER MY COVER

Paku dan Palu

Jika satu-satunya alat yg kita miliki adalah palu
kita akan cenderung melihat segala hal adalah paku
-Abraham H. Maslow-
***********************************************


Saat kita
hanya punya palu, semua yg ada di sekitar kita akan melakukan apapun sekedar terhindar dari pukulan. Mungkin yg bisa menjadi sahabat-sahabat kita hanyalah orang yang lebih buruk daripada kawan-kawan Fir’aun. Setidaknya itulah yg dikatakan seorang anak kecil di Iraq kepada durjana zaman ‘Umayyah, Al Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqafi.

Sedikit kita ingat tentang Al Hajjaj. Dia, bersama Abul Aswad Ad Du’ali, adalah seorang alim yg punya andil merumuskan sistem harakat untuk mushhaf yg kita baca. Tapi bukankah dia seperti kata ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, “Andai ummat-ummat dan bangsa datang dengan segala kejahatan mereka; dan kita Bani ‘Umayyah datang dengan Al Hajjaj seorang, demi Allah takkan ada yang bisa mengalahkan kita.”

Para penulis riwayat menghitung, Al Hajjaj bertanggungjawab atas pembunuhan sekitar 120.000 orang yang kebanyakan adalah ‘ulama dan orang-orang shalih. Belum lagi ketika dia meninggal, masih ada sekitar 80.000 jasad yang ditemukan di penjaranya, mati tanpa peradilan yang hak. Rincian ini bisa kita teliti dalam redaksi Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab 1/353 dan 2/571; dan Ibn Khaldun, At Tarikh 3/39.

Di antara mereka yang dibunuh Al Hajjaj, terdapat sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti ‘Abdullah ibn Az Zubair ibn Al ‘Awwam, putra Asma’ binti Abi Bakr Ash Shiddiq, An Nu’man ibn Basyir, ‘Abdullah ibn Shafwan, dan ‘Imarah ibn Hazm. Kepala mulia ‘Abdullah yang pernah diciumi Rasulullah itu dipenggal dan dikelilingkan ke berbagai kota; Makkah, Madinah, hingga Damaskus. Jasad-jasad mereka disalibkan di kota Makkah, dijadikan tontonan hingga berbulan lamanya. Keterangan ini bisa kita telusur dalam tulisan Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab 1/353-354; Ath Thabari, At Tarikh 5/33-34; Ibn Katsir, dan Al Bidayah 8/245 dan 332.

Selain itu, patut dicatat nama Sa’id ibn Jubair, tabi’in agung, murid kesayangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas yang dikuliti dan disayati dagingnya oleh Al Hajjaj. Juga tindakan dan cercaannya yang mengancami ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Abdullah ibn Mas’ud, Anas ibn Malik, dan Sahl ibn Sa’d As Sa’idi, Radhiyallaahu ‘Anhum. Di masa ini pula para penguasa melaksanakan khuthbah pertama Jum’at sambil duduk, menjadikan caci-maki terhadap ‘Ali ibn Abi Thalib dan keluarganya sebagai rukun khuthbah, dan melangsungkan khuthbah hari raya sebelum shalatnya. Bid’ah-bid’ah yang dahsyat ini bisa kita telusuri dalam anggitan Ibn Al Atsir, Al Kamil 4/119, 300; Ath Thabari, At Tarikh 6/26; dan Ibn Katsir, Al Bidayah 8/258, 10/30-31.

Subhanallah! Hajjaj benar-benar contoh ekstrim sempurna untuk seorang muslim yg hanya punya palu, dan memperlakukan segala hal sebagai paku.

Ada banyak kisah tentang Al Hajjaj, ketika dia berhadapan dengan orang-orang dizamannya. Dia mengatur dan memimpin manusia dengan cekaman ketakutan. Selain kekejamannya, dia dikenal punya lidah yg fasih, hujjah yg mantap, dan bahkan senantiasa memiliki dalil untuk membenarkan segala tindakannya. Tetapi ada waktu-waktu di mana saat berhadapan dengan orang shalih dia tak berkutik dan kehilangan kata. Kali ini giliran seorang anak kecil yg cerdas membungkamnya.

Anak berusia awal belasan dengan rambut panjang dikepang hingga dada dihadapkan pada Al Hajjaj. Tanpa takut dia mendekat. Melihat Al Hajjaj duduk di atas panggung kehormatan yg tinggi dan megah, dia memperhatikannya dengan takjub. Ditelusurinya detail panggung yg gemerlapan itu dengan matanya yg berkejap-kejap. Lalu dia membaca sebuah ayat.

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah yg tinggi bangunan megah untuk bermain-main? Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal di dunia? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”
(Q.s. Asy-Syu’araa : 128-131)
Al Hajjaj yg sedang duduk bertelekan di atas kursinya segera menggeser pijakan dan mencondongkan tubuh ke depan. “Hai anak kecil,” tegurnya, “Sungguh ku lihat engkau memiliki kecerdasa dan kepandaian. Apakah kamu menghafal Al-Qur’an?”
Dalam bahasa Arab kata Hafizha bisa berarti manghafal, bisa juga berarti menjaga. Maka anak itu dengan mata berbinar menjawab, “Apakah engkau takut Al-Qur’an akan hilang sehingga aku harus menjaganya? sedangkan Allah sendiri telah berjanji untuk menjaganya.”
“Apakah kamu sudah mengumpulkan keseluruhan Al-Qur’an?” tanya Al Hajjaj memperjelas apakah anak ini telah menghafal kesemua isi Al Qur’an.
“Memangnya dulunya ia terpisah-pisah sehingga aku harus mengumpulkannya?”
“Apakah kamu sudah menyempurnakannya?” lagi-lagi Al Hajjaj bertanya apakah si anak telah mengkhatamkan hafalan Al Qur’annya.
“Bukankah Allah telah menurunkannya dengan sempurna?”
“Maksudku,” kata Hajjaj mulai kesal, “Apakah engkau sudah menghafalnya di belakang punggungmu?” ‘Di belakang punggung’ adalah kiasan untuk hafal di luar kepala, tapi juga bisa berarti mengabaikan.
“Aku berlindung kepada Allah,” kata si bocah, “agar tidak menjadikan Al Qur’an di belakang punggungku!”
“Celakalah kamu!” gertak Al Hajjaj, “jadi aku harus mengatakan apa?”
“Kecelakaan justru bagimu dan orang-orang yg bersamamu. Katakan saja: Apakah kamu sudah memenuhi hatimu dengan Al Qur’an?”
“Bacalah beberapa ayat dari Al Qur’an!” pinta Al Hajjaj.
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan Syaithan yg terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia akan KELUAR dari agama Allah dengan berbondong-bondong!”
“Kurang ajar kamu! mereka MASUK agama Allah, bukan keluar!”
“Dulunya mereka memang masuk, tapi sekarang mereka keluar.”
“Mengapa?”
“Karena kejahatan dan kezalimanmu kepada mereka!”
“Celakalah kamu! Tahukah dengan siapa kamu sedang bicara?”
Alhamdulillah tsumma a’udzubillah, dengan Syaithan Tsaqif yg bernama Al Hajjaj!”
Begitulah. Antara Al Hajjaj dan bocah itu terus terjadi tanya jawab yg kian lama makin panas dan membuat Al Hajjaj habis kesabaran. Tiap kali ditanya, si anak menjawab dengan kalimat cerdas dan menghujam. Setelah merasa lelah dengannya, Al Hajjaj berpaling kepada para pembesar yg ada di sisinya. “Bagaimana pendapat kalian tentang bocah ini?”
“Tumpahkan saja darahnya!” seru mereka. “Sungguh dia telah membangkang kepada pemimpin dan keluar dari jama’ah!”
“Wahai Al Hajjaj.” panggil si anak kecil, “Teman-teman Fir’aun, saudaramu itu, kesal kepada Musa yg gagah dan dewasa, maka mereka mengatakan kepada sang tiran seperti termaktub dalam ayat ke 36 surat Asy-Syu’araa, ‘Beri tangguhlah dia dan saudaranya Harun!’ Sementara kawan-kawanmu ini justru mengatakan tentang anak kecil yg lemah, ‘Tumpahkanlah darahnya!’ Demi Allah, akan ada hujjah di hadapanNya, Raja dari sekalian raja. Dia Yang akan membinasakan semua penguasa zalim dan menghinakan orang2 yg sombong!”
Sahabat bloger, saatnya menukar palu dengan sarung tangan beludru…
Mohon maaf saya belum mencari riwayat tentang anak kecil ini, siapa dia sebenarnya? jika dulur bloger mengetahuinya tolong beritahu saya melalui komentar. Jazk.   🙂
Inspired by “Dalam Dekapan Ukhuwah”_Salim A. Fillah
Advertisements
This entry was published on July 28, 2011 at 3:26 am and is filed under Stories & Profiles. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

18 thoughts on “Paku dan Palu

  1. subhanallah…
    sangat inspiratif; makasih banyak ya Akh, telah memosting tulisan yang bagus ini.

  2. Tentang Al Hajjaj.. Maka demikianlah adanya. Tentang anak kecil itu Allohu Ta’ala A’lam.. Ana malah baru tahu sekarang.. ^^

    Nice post akhi.. Baarokallohufiyk.. ^^

  3. Assalaamu’alaykum…
    ‘afwan akh, ana mau tanya, syahru itu artinya bulan bukan ya?
    ‘afwan komentarnya tidak nyambung

    Tapi ‘afwan minta izin tulisan ini ana simpen ya?
    buat revisi bikin buku, syukron..
    *nunggu izin dulu

  4. Assalamualaikum,,..
    Nice post sob,,

  5. sayyidahali on said:

    subhanallah, aku malah ingin tau, siapakah orang tuanya? yang berhasil mendidik anaknya sedemikian rupa cerdasnya

  6. Banyak belajar dari postingan ini,
    membuka hati untuk sebuah kebenaran..

  7. ass
    sayang banget, saya juga tidak tahu riwayat anak kecil tersebut.
    postingan mantap ni.
    trims kunjungannya ke Yogya

  8. semoga segera mendapatkan info tentang anak kecil itu ya mas, biar bisa menyempurnakan paku dan palu ini..

    salam hangat dari Palembang 🙂

  9. nice post,,thaks you’re posting..salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: