UNDER MY COVER

Ekstase Mi’raj

ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
(QS. An-Najm : 16 – 18)
*****************************************************
Buraq namanya
Maka ia serupa barq,
ia meletakkan langkahnya di ujung pandangan
seperti kilat yang melesat
dengan kecepatan cahaya
Buraq namanya
Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha
ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun untuk shalat
dan penunggangnya itu kini mengimami mereka
Sang Nabi penutup masa
Tetapi dari sini
Sang Nabi bertolak untuk mengukir sejarah
Disertai Jibril ia naik ke langit,
menembus lapis demi lapis.
Bertemu Adam, Yahya, ’Isa, Yusuf,
Idris, Harun, Musa, Ibrahim.
terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi
hinggalah jaraknya tidak lebih dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..
Allah.. Allah..
melihat Yusuf saja jari para wanita Mesir teriris mati rasa,
apa gerangan rasa melihat Sang Maha Indah? Atau,
apa rasanya saat melihat Ka’bah untuk kali pertama?
haru, syahdu dan air mata
Raga terasa ringan, Jiwa kita penuh. Mulut ini kaku.
terpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani.
Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara.
Demi Allah, betapa nikmatnya..
Sekiranya ku mendapat kemuliaan itu
Takkan sudi ku beranjak ke bumi
Setelah sampai di dekat ’Arsy
ku ingin menikmatinya selamanya.
mengulanginya. Lagi dan lagi.
ruhaniku terasa penuh,
berkecipak, mengalun. Jiwaku terpana
bagai titik air menyatu dengan samudera,
kedirianku hilang lenyap ditelan keagungan Ilahi.
Ku ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah,
dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja.
Selama-lamanya.
Tetapi saat ku baca sabdamu bercerita, aku malu
Padaku malaikat menawarkan,
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami,
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”
Mi’raj hanya sekali,
hanya ketika deraan rasa sakit,
badai kepiluan, dan himpitan beban
telah melampaui daya tahan kemanusiaan.
Ia terjadi saat sang Rasul merasakan
puncak kepayahan jiwa; da’wah yang ditolak,
seruan yang diabaikan, pengikut yang tak seberapa,
sahabat-sahabat yang disiksa, dan para penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia.
Maka Mi’raj adalah waqfah,
sekedar rehat, perhentian sejenak.
mengambil kembali energi ruhani,
mengisi ulang stamina jiwa.
Oase tempat Sang Nabi mengisi ulang bekal perjalanan
Bekal perjuangannya. Sesudah itu, dunia menantinya
Dan iapun menyisipkan diri ke kancah zaman.
Ya, Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an
Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan Tuhanmu.
berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar da’wah dan jihad.
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman. Larilah hanya menujuNya.
Meloncatlah hanya ke haribaanNya.
Walau duri merantas kaki. Walau kerikil mencacah telapak.
Sampai engkau lelah. Sampai kau payah.
Sampai keringat dan darah tumpah.
Maka Ekstase akan datang padamu,
ketika engkau beristirahat dalam shalat.
Saat kau rasakan puncak kelemahan diri
di hadapan Yang Maha Kuat.
Lalu kaupun pasrah, berserah..
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya,
dan Dia pasti melihatmu..
Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1432 H
Advertisements
This entry was published on June 29, 2011 at 8:26 pm. It’s filed under Stories & Profiles and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

30 thoughts on “Ekstase Mi’raj

  1. Subhanallah,
    semoga kita termasuk umat yang tetap menjalankan ajaran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

  2. semoga kita menjadi orang-orang yang selalu berada di jalanNya dan akan selelu menuju jalanNya 🙂

  3. sayyidahali on said:

    subhanallah indah sekali..
    lagi- lagi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan Rasulullah ..beliau rela meninggalkan kemewahan, bahkan keindahan bersama Robbnya, beliau lebih memilih umatnya,,derita, kelaparan, bahkan aliran darah demi ummatnya,
    jadi pertanyaan buat diri, adakah air mata, darah, atau pernah merasakan kelaparan demi meneruskan perjuangan beliau..
    Allahumma shalli ‘ala Muhammad..
    semoga Allah memilih kita untuk selalu berjuang tegakkan agama.

  4. shollu ‘ala Muhammad…

  5. Begitu indah coretan ini, subhanallah..

  6. Tlng Linkback saya ya… Thanks be4.. krn saya baru dapat beli kontrakan baru nieh..

  7. fafirruu ilalloh 🙂

  8. Luar biasa…membacanya bikin hati sejuk…good post

  9. subhanallah, nice posting sahabat. semoga kita menjadi umat Nabi Muhammad yang teguh membela agama Islam sesuai teladannya yang indah.Amin

  10. sangat sangat senang membacanya
    sungguh bagus sekali
    bulir demi bulir turut memetik hikmahnya

  11. Saya sampai merinding bacanya. Subhanallah….
    semoga kita senantiasa meneladani junjungan kita Nabi Muhammada SAW.

  12. mantap euy puisinya..
    coba ikut2 lomba akh, insya ALLAH bermanfaat..
    salam kenal, kunjungan balik nih..

    izin tuker link sekalian, ana dah taro link ant di lapak ana.. syukron..

  13. menarik
    salam hangat dari blue

  14. Allahumma sholli ‘ala muhammad..

  15. Singgah lagi ya…

    Ada hajatan kecil neh….
    Dalam rangka menyambut bulan suci, dibagi buku “Dahsyatnya Ramadhan”. Bagaimana caranya? Silakan klik:

    http://amazzet.wordpress.com/2011/07/14/290/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: